Pada 2021, CISA, lembaga keamanan siber pemerintah AS, merilis peringatan resmi setelah mendeteksi aktivitas mencurigakan di jaringan sejumlah institusi besar. Sumbernya: celah pada layanan VPN yang selama ini dianggap aman! Parahnya, celah itu sudah diketahui sejak 2019, –tetapi tetap dibiarkan terbuka karena patch tak segera diterapkan. Hasilnya, hacker masuk ke internal network dan beroperasi diam-diam selama berbulan-bulan tanpa terdeteksi.
Insiden ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti VPN makin sulit diandalkan. Dalam praktiknya, solusi ini sering gagal memberikan visibilitas dan kontrol yang dibutuhkan di lingkungan kerja yang makin fleksibel. 76% organisasi global juga sudah menyadari hal ini dan berencana mengganti VPN mereka dengan pendekatan Zero Trust Network Access (ZTNA).
Namun apa alasan VPN bisa sedemikian rentan dan apa yang membuat solusi ini tidak lagi relevan di setup kerja modern? Temukan jawabannya di artikel ini.
Alasan VPN Lebih Rentan: Ancaman Digital Kian Sulit Dibendung
Seiring laju transformasi digital yang semakin pesat, lanskap ancaman siber pun berkembang menjadi jauh lebih kompleks dan sulit diprediksi. Dalam laporan Terbarunya untuk Q2 2025, Cloudflare mencatat lebih dari 6.500 serangan DDoS hyper-volumetric, dengan lonjakan traffic yang mencapai 7,3 Tbps—volume yang cukup untuk melumpuhkan sistem hanya dalam hitungan detik.
Serangan-serangan semacam ini umumnya menargetkan kelemahan arsitektur tradisional, terutama sistem yang masih mengandalkan VPN sebagai pertahanan utama.
Kenapa VPN Tidak Lagi Aman Buat Gaya Kerja Remote?

VPN dirancang di masa ketika jaringan internal bisa sepenuhnya dipercaya, dan akses jarak jauh masih jarang dilakukan. Akan tetapi sekarang? Akses dilakukan dari mana saja—rumah, coworking space, jaringan publik—menggunakan berbagai perangkat yang tidak selalu terdaftar atau dilindungi oleh sistem IT. Dalam lanskap kerja yang makin fleksibel dan dinamis, VPN mulai kewalahan mengikuti ritme dan kompleksitasnya.
Lebih dari itu, VPN hanya mengandalkan model akses berbasis jaringan. Begitu koneksi terbuka, user sering kali langsung mendapat akses luas ke internal network—tanpa segmentasi, tanpa validasi identitas atau posture perangkat. Ini menciptakan celah besar, apalagi ketika melibatkan:
Akses Jarak Jauh & Pihak Ketiga
Tim eksternal seperti vendor atau konsultan juga perlu akses, tapi VPN memberi mereka terlalu banyak ruang. Tanpa kontrol berbasis identitas dan kontekstual, satu kredensial bocor saja bisa membuka seluruh network.
Perangkat Pribadi dan Unmanaged Devices
Dengan tren BYOD, makin banyak perangkat pribadi yang terkoneksi. Tanpa kemampuan mengevaluasi perangkat secara real-time, VPN tidak bisa menjamin keamanan titik masuk ini.
Kompleksitas Cloud & M&A
Dalam proses migrasi cloud atau integrasi setelah merger, perusahaan sering menghadapi sistem yang berbeda-beda. VPN tidak fleksibel untuk menerapkan kebijakan keamanan yang konsisten lintas environment ini.
Zero Trust: Pengganti VPN yang Siap Hadapi Risiko Sekarang
Zero Trust hadir dengan pendekatan yang sangat berbeda total dari VPN. Bukan lagi mengandalkan kepercayaan pada jaringan, setiap akses divalidasi secara ketat—berdasarkan identitas, lokasi, posture perangkat, dan konteks lainnya. Hasilnya? Akses hanya diberikan ke resource yang benar-benar dibutuhkan, tanpa membuka pintu lebar ke seluruh network.
Dengan kontrol yang lebih granular dan berbasis identitas, Zero Trust jauh lebih cocok untuk gaya kerja remote dan hybrid saat ini. Solusi ini menghadirkan keamanan yang adaptif, fleksibel, dan tetap seamless untuk user—tanpa perlu kompromi antara keamanan dan produktivitas.
Keunggulan Zero Trust Dibanding VPN
Zero Trust hadir bukan hanya sebagai alternatif, tapi sebagai lompatan besar dalam cara kita mengamankan akses digital. Lalu, apa saja keunggulan utamanya dibanding VPN?
Akses Berdasarkan Identitas
VPN memberi akses berdasarkan posisi di jaringan. Zero Trust membalik logika ini: akses hanya diberikan setelah identitas user dan perangkat tervalidasi. Ini menutup potensi penyusup yang bisa menyamar hanya karena berhasil masuk ke jaringan.
Kontrol Lebih Granular
Alih-alih memberi akses ke seluruh network, Zero Trust mengatur siapa boleh akses apa—hingga ke level aplikasi dan data. Ini sangat penting untuk membatasi dampak jika terjadi kompromi akun atau perangkat.
Evaluasi Perangkat Real-Time
Zero Trust tidak hanya melihat siapa user-nya, tapi juga mengevaluasi apakah perangkat yang digunakan aman—sudah di-patch, memiliki endpoint protection, dan sesuai dengan kebijakan perusahaan. Jika tidak memenuhi standar, akses akan otomatis ditolak.
Siap untuk Cloud dan Hybrid
VPN dirancang untuk menghubungkan ke jaringan lokal, sedangkan Zero Trust dibuat untuk era cloud. Sistem ini menjaga konsistensi kebijakan keamanan, meskipun aplikasi tersebar di berbagai environment—baik cloud, on-prem, maupun hybrid.
Akses Tanpa Friksi
Zero Trust memungkinkan user terhubung langsung ke aplikasi yang dibutuhkan tanpa harus melalui proses login VPN yang lambat. Pengalaman jadi lebih cepat dan seamless, tanpa mengorbankan keamanan di belakangnya.
Best Practices Migrasi dari VPN ke Zero Trust
Untuk memastikan transisi berjalan mulus, organisasi perlu strategi yang bertahap, terukur, dan kontekstual dengan kebutuhan masing-masing. Berikut adalah beberapa praktik terbaik yang bisa dijadikan acuan dalam proses migrasi:
Mulai dari Identitas dan Aplikasi Kritis
Identifikasi aplikasi internal yang paling sering diakses user dan kaitkan dengan sistem autentikasi berbasis identitas (SSO, MFA). Ini jadi pondasi utama Zero Trust—akses diberikan ke aplikasi, bukan ke seluruh network.
Terapkan Prinsip Least-Privilege Secara Bertahap
Alih-alih mengubah semuanya sekaligus, mulai dengan akses minimal untuk user tertentu atau divisi tertentu. Evaluasi efektivitasnya, lalu lanjutkan ke area lain secara progresif.
Pastikan Visibilitas dan Monitoring Sejak Awal
Gunakan solusi yang menyediakan log dan insight real-time agar tim IT bisa memantau aktivitas user, mendeteksi anomali, dan menyempurnakan kebijakan keamanan seiring waktu.
Edukasi Internal dan Kolaborasi Tim
Migrasi Zero Trust memerlukan dukungan dari banyak pihak—dari IT, security, hingga user akhir. Pastikan ada komunikasi yang baik agar transisi tidak mengganggu produktivitas harian.
Pilih Solusi yang Mudah Diintegrasikan
Gunakan platform Zero Trust yang cloud-native, fleksibel, dan mendukung integrasi tanpa perlu mengubah infrastruktur. Ini akan mempercepat adopsi tanpa beban teknis berlebih.
Butuh solusi pengganti VPN yang lebih aman, cepat, dan mudah diterapkan? Cloudflare menawarkan pendekatan Zero Trust yang sudah dipercaya ribuan organisasi di seluruh dunia!
Cloudflare Zero Trust: Solusi Modern Pengganti VPN
Cloudflare Zero Trust hadir sebagai solusi pengganti VPN yang lebih aman, scalable, dan cepat untuk era kerja modern. Berbeda dari model VPN konvensional, pendekatan ini menerapkan least-privilege access—akses hanya diberikan jika identitas user, posture perangkat, dan konteks lainnya tervalidasi. Model ini secara signifikan memperkecil risiko penyusup masuk hanya karena berhasil menembus perimeter jaringan.
Sebagai platform yang cloud-native, Cloudflare memungkinkan tim mengakses aplikasi secara langsung tanpa harus melewati jalur rumit ke jaringan internal. Lewat kombinasi Cloudflare Access dan Gateway, organisasi mendapatkan kontrol granular, perlindungan real-time terhadap ancaman, serta visibilitas penuh terhadap aktivitas user—semuanya dijalankan dari satu dashboard yang mudah dioperasikan.
Wujudkan Keamanan Zero Trust yang Modern bersama Helios
Helios Informatika Nusantara (HIN), bagian dari CTI Group, siap membantu Anda mengimplementasikan solusi Zero Trust dari Cloudflare sebagai pengganti VPN yang lebih aman, cepat, dan mudah dikelola—tanpa perlu ubah infrastruktur yang sudah ada.
Hubungi kami sekarang dan temukan bagaimana Cloudflare Zero Trust dapat meningkatkan keamanan akses, menyederhanakan operasional IT, dan memberikan pengalaman kerja yang lebih efisien di era kerja modern.











