Bayangkan layanan perbankan digital berhenti bukan hanya beberapa jam, tetapi hingga lebih dari 800 jam. Itulah yang dialami sejumlah bank besar di Eropa dalam dua tahun terakhir. Fakta ini diungkap oleh Computer Weekly, yang mencatat bagaimana outage IT membuat layanan krusial seperti mobile banking, pembayaran digital, hingga akses rekening lumpuh dalam waktu yang tidak singkat.
Kejadian ini memperlihatkan satu hal yang sering luput disadari. Di industri finansial yang serba digital, gangguan sistem bukan lagi skenario langka, melainkan risiko nyata yang bisa muncul kapan saja. Saat sistem bermasalah, yang paling menentukan bukan hanya seberapa canggih infrastrukturnya, tetapi seberapa siap organisasi menghadapi momen kritis.
Dalam konteks Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), kondisi ini bukan lagi sekadar isu teknis. Kegagalan menjaga ketersediaan dan integritas data dapat berujung pada sanksi administratif, denda, hingga penurunan kepercayaan publik.
Di sinilah banyak institusi finansial mulai menyadari bahwa disaster recovery plan bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi kesiapan untuk mengendalikan risiko, menjaga kepatuhan, dan memastikan layanan dapat pulih dengan cepat saat gangguan terjadi.
Mengapa Disaster Recovery Jadi Kebutuhan Industri Finansial?
Industri finansial bertumpu pada sistem yang harus selalu tersedia. Core banking, payment system, dan aplikasi digital digunakan nasabah setiap hari. Ketika sistem mengalami gangguan, dampaknya cepat meluas.
Akses data nasabah terganggu, layanan terhenti, dan kewajiban perlindungan data pribadi ikut tertekan. Di sektor perbankan, hal ini bukan hanya persoalan operasional, tetapi juga kewajiban hukum yang diatur dalam Regulasi Perlindungan Data Pribadi (PDP).
Di sisi lain, ancaman terhadap sistem finansial semakin kompleks. Gangguan tidak hanya berasal dari kegagalan infrastruktur, tetapi juga kesalahan konfigurasi, lingkungan hybrid dan cloud yang rumit, serta serangan ransomware yang menargetkan data sensitif. Kegagalan menjaga ketersediaan dan integritas data dapat berujung pada sanksi administratif, denda, investigasi regulator,
hingga kerusakan reputasi. Tanpa disaster recovery yang modern dan teruji, proses pemulihan berisiko berjalan lambat dan memperbesar dampak gangguan, baik bagi bisnis maupun kepatuhan.
Beberapa tantangan utama yang saat ini dihadapi industri finansial antara lain:
- Downtime pada sistem transaksi dan layanan digital
- Risiko ransomware dan data corruption pada database utama
- Kompleksitas pengelolaan lingkungan hybrid dan cloud
- Proses recovery manual yang lambat dan rentan human error
- Tekanan regulasi terkait ketersediaan serta perlindungan data
Mengapa Industri Finansial Perlu Memiliki Disaster Recovery Plan
Tanpa disaster recovery plan, proses pemulihan sering berjalan tanpa arah yang jelas, memakan waktu, dan memperbesar dampak ke nasabah serta operasional bisnis. Di sinilah disaster recovery plan dibutuhkan, agar organisasi tahu apa yang harus dilakukan saat sistem bermasalah dan layanan bisa kembali berjalan tanpa kepanikan.
Situasi inilah yang membuat banyak institusi finansial mulai melirik pendekatan yang lebih modern, seperti yang dihadirkan oleh Hewlett Packard Enterprise (HPE), perusahaan teknologi global yang fokus membantu organisasi memulihkan sistem dan data dengan lebih cepat dan terkontrol saat gangguan terjadi.
Baca Juga: Pelajaran! Gempa Jepang & Rusia Tunjukkan Pentingnya Proteksi Data (Disaster Recovery) Bisnis Anda
Bagaimana HPE Zerto Menjawab Kebutuhan Disaster Recovery di Industri Finansial
HPE Zerto hadir sebagai pendekatan disaster recovery plan yang dirancang untuk realita industri finansial saat ini. Melalui satu platform terpusat, Zerto membantu organisasi menyiapkan proses pemulihan yang lebih rapi saat gangguan terjadi, termasuk perlindungan terhadap ransomware dan kebutuhan workload migration yang semakin sering muncul di lingkungan IT modern.
Dengan teknologi continuous data protection, data direplikasi secara real-time per detik sehingga risiko kehilangan data transaksi bisa ditekan. Proses failover dan recovery dapat dijalankan secara otomatis dan terorkestrasi, membuat aplikasi kritikal seperti core banking dan payment system kembali aktif dalam waktu singkat, baik di lingkungan on-prem, cloud, maupun multi cloud, tanpa mengganggu sistem produksi.
Baca Juga: Downtime dan Ransomware Ancam FSI, Antisipasi dengan BCDR!
Dampak Penggunaan HPE Zerto bagi Operasional Industri Finansial
Pemulihan Data Nasabah yang Cepat dan Presisi
HPE Zerto memungkinkan sistem dipulihkan hingga ke detik sebelum insiden terjadi. Data transaksi dan data pribadi nasabah dapat dikembalikan secara utuh, sehingga risiko kehilangan informasi penting dapat ditekan dan integritas data tetap terjaga.
Layanan Finansial Tetap Aktif dengan Downtime yang Sangat Singkat
Dengan failover otomatis dan orchestration yang terstruktur, layanan digital seperti mobile banking dan sistem pembayaran dapat kembali berjalan dalam waktu singkat. Hal ini membantu menjaga pengalaman nasabah tetap konsisten meskipun terjadi gangguan pada sistem utama.
Pemulihan Ransomware yang Lebih Terkendali
Melalui fitur journal-based recovery, sistem dapat dikembalikan ke kondisi sebelum serangan ransomware terjadi. Proses pemulihan menjadi lebih cepat dan terarah dibandingkan pendekatan backup tradisional yang sering membutuhkan waktu lebih lama.
Dukungan Nyata terhadap Kepatuhan Regulasi Perlindungan Data
Kemampuan memulihkan data secara cepat dan terkontrol menjadi bagian penting dalam perlindungan data pribadi. Dengan HPE Zerto, institusi finansial memiliki fondasi teknis yang mendukung kepatuhan terhadap regulasi PDP dan ketentuan industri keuangan.
Operasional Disaster Recovery yang Lebih Sederhana
Seluruh proses disaster recovery dikelola melalui satu dashboard terpusat. Tim IT mendapatkan visibilitas real-time terhadap status replikasi, RPO, dan kesiapan recovery, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan percaya diri.
Bangun Strategi Disaster Recovery yang Modern bersama Helios
Helios Informatika Nusantara (HIN), bagian dari CTI Group, membantu institusi finansial membangun disaster recovery plan yang siap digunakan melalui HPE Zerto, satu platform untuk disaster recovery, perlindungan ransomware, dan workload migration.
Diskusikan kebutuhan disaster recovery Anda bersama Helios dan temukan bagaimana HPE Zerto membantu menjaga ketersediaan layanan, melindungi data nasabah, dan mendukung kepatuhan regulasi di lingkungan IT modern.











