Di tengah percepatan transformasi digital, perbankan tidak lagi hanya bersaing pada produk, tetapi juga pada kecepatan dan keandalan layanan berbasis data. Setiap transaksi, integrasi dengan fintech, hingga layanan digital banking bergantung pada aliran data yang lancar. Ketika data berjalan optimal, bisnis bisa tumbuh lebih cepat dan memberikan pengalaman nasabah yang lebih baik.
Namun di balik peluang tersebut, risiko data breach juga ikut meningkat. Gangguan keamanan tidak hanya berdampak pada sistem IT, tetapi bisa langsung memengaruhi operasional, menurunkan kepercayaan nasabah, hingga memicu risiko regulasi. Bahkan, ancaman sering kali datang dari luar, seperti vendor atau partner teknologi yang menjadi bagian dari ekosistem bisnis.
Di kondisi seperti ini, pertanyaannya: bagaimana cara mencegah kebocoran data tanpa menghambat inovasi dan kolaborasi bisnis? Berikut ulasannya.
.
Kasus Kebocoran Data Perbankan di Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kebocoran data beberapa bank di Indonesia menjadi perhatian serius. Berbagai kasus menunjukkan bahwa serangan siber tidak lagi bersifat sederhana, melainkan semakin kompleks dan terorganisir.
Dampaknya tidak hanya pada kerugian finansial, tetapi juga kepercayaan nasabah yang dapat menurun drastis dalam waktu singkat. Dalam industri finansial, kepercayaan adalah segalanya sekali hilang, proses pemulihannya jauh lebih sulit dibandingkan pencegahannya.
Lebih dari itu, regulasi dari otoritas seperti OJK dan Bank Indonesia juga semakin ketat, menuntut institusi finansial untuk memiliki sistem keamanan yang tidak hanya kuat, tetapi juga terukur dan dapat diaudit.
.
Contoh Kasus Kebocoran Data Akibat Pihak Ketiga

Dalam banyak kasus kebocoran data bank di Indonesia, masalahnya sering kali bukan dari dalam, tetapi justru dari pihak ketiga yang terlibat dalam operasional bisnis.
Di satu sisi, kolaborasi dengan fintech, payment gateway, dan cloud provider memang membantu bank bergerak lebih cepat dan menghadirkan layanan yang lebih inovatif. Tapi di sisi lain, setiap integrasi itu juga membuka “pintu baru” yang bisa dimanfaatkan oleh attacker, terutama jika standar keamanan vendor tidak sekuat sistem internal bank.
Yang jadi tantangan, risiko ini sering tidak terlihat sejak awal. Banyak bank hanya melakukan penilaian vendor di tahap awal kerja sama, tanpa monitoring berkelanjutan. Akibatnya, ketika ada celah keamanan di pihak vendor, bank tidak langsung mengetahuinya dan baru sadar saat insiden sudah terjadi.
Dari sisi bisnis, dampaknya bisa sangat besar. Gangguan layanan, potensi kerugian finansial, hingga turunnya kepercayaan nasabah bisa terjadi dalam waktu singkat. Bahkan dalam beberapa kasus, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa terdampak hanya karena satu celah dari pihak ketiga.
.
Baca Juga: Memahami Vendor Risk Management Services: Definisi, Strategi Implementasi, hingga Best Practice
.
Bagaimana Cara Efektif Mencegah Kebocoran Data di Perbankan?
Untuk menjawab tantangan tersebut, pendekatan keamanan tidak bisa lagi bersifat reaktif. Perbankan perlu mengadopsi strategi yang lebih proaktif dan berkelanjutan, terutama dalam mengelola risiko third-party.
Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan:
Pertama, melakukan evaluasi keamanan vendor sebelum kerja sama. Setiap integrasi, terutama yang melibatkan API, harus melalui proses screening yang jelas untuk memastikan vendor memiliki standar keamanan yang memadai.
Kedua, menerapkan continuous monitoring. Risiko keamanan bukan sesuatu yang statis, kondisi vendor dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, pemantauan harus dilakukan secara real-time, bukan hanya saat onboarding.
Ketiga, meningkatkan visibilitas terhadap attack surface. Banyak celah keamanan berasal dari aset digital yang tidak terpantau, seperti subdomain, IP address, atau port yang terbuka. Tanpa visibilitas yang jelas, potensi risiko ini sulit dikendalikan.
Keempat, memastikan compliance dan auditability. Dengan regulasi yang semakin ketat, perusahaan perlu memiliki data yang terukur untuk membuktikan bahwa sistem keamanan berjalan dengan baik.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa cara mencegah kebocoran data bukan hanya soal teknologi, tetapi juga strategi pengelolaan risiko yang menyeluruh.
.
Baca Juga: FSI Rentan Diserang! Terapkan AI Vendor Risk Management Sebelum Terlambat
.
SecurityScorecard Hadir Sebagai Solusi Monitoring Keamanan Perbankan
Untuk mengatasi kompleksitas tersebut, perusahaan membutuhkan solusi yang mampu memberikan visibilitas secara menyeluruh terhadap risiko eksternal. Di sinilah SecurityScorecard berperan.
SecurityScorecard menghadirkan pendekatan proaktif melalui pengukuran keamanan siber berbasis skor (A–F), yang memudahkan organisasi dalam memahami tingkat risiko, baik untuk sistem internal maupun vendor.
Berbeda dengan metode tradisional, solusi ini menggunakan pendekatan non-intrusive. Artinya, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi celah keamanan tanpa harus mengakses sistem internal vendor, yang sering kali menjadi kendala dalam proses assessment.
Selain itu, kemampuan monitoring secara real-time memungkinkan tim IT untuk mendeteksi perubahan risiko dengan cepat. Jika terjadi penurunan skor keamanan pada vendor atau aset digital tertentu, perusahaan dapat segera mengambil tindakan sebelum berkembang menjadi data breach yang lebih serius. Dengan pendekatan ini, pengelolaan Third-Party Risk Management (TPRM) menjadi lebih efektif, terukur, dan scalable.
.
Keunggulan SecurityScorecard untuk Perbankan
SecurityScorecard tidak hanya berperan sebagai solusi keamanan, tetapi juga sebagai enabler bisnis yang membantu menjaga stabilitas operasional dan kepercayaan nasabah. Berikut keunggulannya:
Real-time Continuous Monitoring
Memantau kondisi keamanan secara berkelanjutan, baik untuk sistem internal, vendor, hingga kompetitor, sehingga potensi risiko dapat diketahui lebih cepat sebelum berkembang menjadi insiden.
Visibilitas Menyeluruh dengan Attack Surface Intelligence
Mengidentifikasi seluruh aset digital yang terekspos ke publik, seperti domain, IP, dan port terbuka, sehingga celah keamanan yang sebelumnya tidak terlihat bisa segera ditangani.
Pengelolaan Vendor Lebih Efektif dengan TPRM
Memudahkan evaluasi, prioritisasi risiko, hingga otomasi onboarding vendor tanpa perlu instalasi agent atau integrasi yang kompleks.
Mengurangi Risiko Kebocoran Data Nasabah
Membantu mengidentifikasi dan menutup celah keamanan lebih awal sebelum dimanfaatkan oleh attacker.
Mendukung Compliance dan Audit
Menyediakan data yang terukur dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan regulasi seperti OJK dan Bank Indonesia.
Menjaga Stabilitas Operasional
Meminimalkan risiko downtime pada sistem kritikal seperti core banking dan layanan digital lainnya.
Meningkatkan Kepercayaan Nasabah
Sistem keamanan yang terjaga dengan baik berdampak langsung pada kepercayaan terhadap layanan perbankan digital.
Melindungi Reputasi Bisnis
Menghindari potensi krisis akibat data breach yang dapat merusak brand dalam waktu singkat.
Skor keamanan mudah dipahami (A–F)
Pendekatan berbasis skor membuat hasil analisis lebih intuitif dan dapat dipahami tidak hanya oleh tim IT, tetapi juga oleh manajemen.
Saatnya Beralih ke Pendekatan Keamanan yang Lebih Proaktif Bersama Helios
Mengandalkan pendekatan lama yang reaktif hanya akan membuat perusahaan selalu selangkah tertinggal dari ancaman. Sebaliknya, pendekatan proaktif dengan visibilitas menyeluruh menjadi kunci untuk mencegah kebocoran data sejak dini.
Melalui SecurityScorecard, perusahaan dapat membangun strategi keamanan yang lebih terukur, transparan, dan siap menghadapi tantangan industri finansial yang terus berkembang.
Jika Anda ingin mengetahui bagaimana solusi ini dapat diterapkan di organisasi Anda, tim Helios (part of CTI Group) siap membantu mulai dari assessment hingga implementasi. Saatnya melindungi data, menjaga kepercayaan nasabah, dan memastikan bisnis tetap berjalan dengan aman di tengah ancaman siber yang semakin kompleks.
.











